Hai hai Sobat Kepo, welcome back Sobat….
Masih tentang peta; dengan adanya peta, kita saat ini tidak susah lagi mengetahui gambaran suatu daerah yang ingin ditelusuri. Peta memudahkan manusia dalam memandang dunia.
Sobat Kepo, masih belum lengkap rasanya jika kita hanya mengetahui tentang sejarah munculnya saja, seperti yang sudah dibahas diartikel sebelumnya. Pengetahuan tentang peta masih sangat luas, mencakup sejarahnya, jenis dan cara membacanya, hingga manfaat dari setiap jenis peta tersebut. Pengetahuan yang sangat luas itu tidak akan mampu kita pahami dan kupas dalam satu artikel saja Sobat, banyak dan panjang jadinya.
Nah, pada artikel ini kita kupas dulu tentang sejarah perkembangannya yah Sobat.

Cara Pembuatan Peta pada Abad ke-16

Cara pembuatan peta terus mengalami perkembangan, dari waktu ke waktu. Pada tahun 1586 diakhir Abad ke-16, Humfey Cole menemukan alat yang bernama Cross Staff. Alat tersebut diperkirakan berasal dari China dan kemudian dikembangkan oleh Cole. Cross Staff digunakan untuk mengukur ketinggian dan jarak suatu titik acuan. Bentuk dari alat tersebut berupa sebatang tongkat yang mempunyai skala dan dilengkapi dengan papan yang tegak lurus sepanjang tongkat tadi, serta dapat digeser-geserkan sepanjang tongkat berskala.


Cara Pembuatan Peta pada Abad ke-18

Kemudian pada Abad ke-18; seorang kapten angkatan laut Inggris, James Cook membuat peta dengan menggunakan Kompas Magentik dan Sektan. Kompas tersebut digunakannya untuk menentukan arah, sedangkan sektan untuk menentukan posisi kapal berdasarkan Ilmu Astronomi. Keberhasilan dari temuannya tersebut dibuktikannya pada tahun 1772, ia berhasil memetakan Selandia Baru dengan pengukuran garis pantai yang dilakukan di atas kapal sambil menyusuri pantai.


Cara Pembuatan Peta pada Abad ke-19

Pada Abad ke-19, ditemukan alat yang digunakan untuk mengukur perbedaan ketinggian, jarak dan arah. Alat tersebut adalah Teodolit. Pada masa itu, pengukuran dan pengambilan data untuk peta dilakukan di puncak gunung, agar dapat mencapai jarak pandang yang lebih luas pada saat pengukuran.
Kemudian, pada pertengahan Abad ke-19 ditemukan lagi alat untuk pengukuran/pemetaan gambar dari udara, alat tersebut ialah Fotogrametri. Alat tersebut membuat pekerjaan pembuat peta menjadi lebih cepat dan praktis. Prinsip kerja alat tersebut sama dengan Teodolit, setelah peta udara diperoleh, gambar yang telah diambil harus dicocokkan dengan titik kontrol yang telah diketahui angka pastinya.


Cara Pembuatan Peta pada Abad ke-20

Nah, pada Abad ke-20 teknik pemetaan foto untuk pengambilan data isi peta tidak lagi melalui foto udara; pada abad tersebut manusia menemukan teknik baru dalam pemetaannya. Teknik untuk pengukuran hingga pembuatan peta dibantu doleh satelit sumber daya (Land Satelit). Kelebihan teknik tersebut adalah lebih cepat, akurat dan lebih hemat biayanya.


Cara Pembuatan Peta pada Abad ke-21

Sobat, pada Abad ke-21 cara pembuatan dan penyajian (membaca) peta tidak lagi mengandalkan tenaga manusia, semuanya serba otomatis berkat munculnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada abad tersebutlah pembuatan peta dengan bantuan komputer dan satelit mulai dibuat. Pembuatannya melalui tahapan-tahapan pemetaan, nah bagaimana caranya?
  • Dikerjakan oleh Land Satelit (Satelit Sumber Daya) untuk melakukan pengambilan foto dengan merekam gambar dan data, kemudian dikumpulkan dalam satu kesatuan data satelit.
  • Dilanjutkan dengan Navigation Satelit (Satelit Navigasi) yang digunakan untuk menentukan posisi titik nol peta.
  • Dan menggunakan komputer sebagai pusat proses data, kemudian menyajikan informasinya dalam bentuk peta digital. Sistem pembuatan dan penyajian tersebut kini dikenal dengan nama GIS (Geographical Information System), Sistem Informasi Geografis dalam Bahasa Indonesianya,
Nah, begitulah kurang lebih sejarahnya Sobat. Nantikan artikel berikutnya tentang pengertian dan manfaat peta ya Sobat….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *