UMKM Go Digital – Akibat dari pandemi Covid-19 menyebabkan pelaku UMKM Go Digital agar mereka mampu untuk betahan dimasa pandemi seperti saat ini. Sejak muncul pada Maret 2020, kasus Covid-19 di Indonesia, masih belum dapat dikendalikan sampai sekarang. Lebih dari setahun sudah pandemi ini mengoyak ekonomi dunia terlebih Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan bahkan sempat turun 5% dalam sehari, transaksi jual beli saham ini lalu diskor selama 30 menit. Kejadian yang sangat langka dan jarang terjadi dalam perdagangan bursa saham Indonesia.

Meski ada banyak perusahan besar yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Ekonomi Indonesia tak sepenuhnya dikendalikan oleh perusahan-perusahan besar yang memiliki pabrik-pabrik besar serta cakupan usaha yang luas. Menteri Komunikasi dan Informatika, Jhonny G Plate mengatakan saat ini 60% Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dihasilkan dari sumbangan UMKM Indonesia. Tentu ini merupakan jumlah yang sangat besar dan terus bertumbuh dari tahun ke tahunya. Namun, saat ini UMKM sedang terpuruk. Rendahnya daya beli masyarakat dan terbatasnya ruang gerak untuk menjangkau pelanggan menyebabkan banyak UMKM terpaksa gulung tikar.

Pandemi Memukul Mundur Para Pengusaha Kecil & Menengah

Rilis data terakhir BPS yang dikutip melalui data.tempo.co menyebutkan ada kurang lebih 64 juta UMKM digital dan non digital yang beroperasi di Indonesia. Namun kini akibat pandemi yang tak jelas akhirnya kapan membuat hampir 50% UMKM gulung tikar. Ketua Asosiasi UMKM Indonesia, Ikhsan Ingratubun menyatakan, selama pandemi ini ada kurang lebih 30 juta UMKM yang bangkrut. Sungguh itu angka yang sangat besar dan tak terhitung berapa uang yang hilang, pekerja yang di-PHK, serta kerugian lainnya.

Menurunnya aktivitas akibat adanya pembatasan sosial oleh pemerintah guna menekan laju pertumbuhan kasus Corona di Indonesia membuat lumpuhnya ekonomi Nusantara. Salah satu daerah yang paling terpukul adalah Bali. Pulau tujuan wisata dunia ini kehilangan ratusan ribuan turisnya baik lokal dan mancanegara. Tempat wisata, artshop, toko oleh-oleh, pasar seni, dan pedagang pernak-pernik mati suri dan banyak yang sudah gulung tikar. Ada ribuan pekerja pariwisata mulai dari pegawai hotel, restoran, guide, supir, dan pekerja lainnya yang hingga kini dirumahkan atau di-PHK. Banyak dari mereka memilih untuk pulang ke kampung dan bercocok tanam di lahan yang masih mereka atau keluarga mereka miliki.

UMKM Digital Melesat dan Meroket

Di sisi lain, ada UMKM yang tumbuh dan perkembangannya sangat baik. Namun pertumbuhan yang baik itu hanya terjadi pada sepertujuh UMKM Indonesia. Menteri Komunikasi dan Informatika, Jhonny G.Plate menyatakan bahwa hanya 14.9% UMKM digital, dan sisanya belum. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan pengusaha. Melakukan penyesuaian sehingga Indonesia bisa setidaknya memiliki 80 hingga 90% UMKM digital.

Brodo contohnya, salah satu merek sepatu ini sukses go digital dalam mengembangkan usahannya dan mendapatkan jangkauan konsumen yang luas. Selain Brodo, ada Boboko snack. Usaha camilan makanan ringan khas Sunda yang berdiri tahun 2016 ini sukses meraup pundi-pundi uang meski pandemi melanda. Kesuksesan mereka dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi alias go digitalmembantu mereka mendapatkan konsumen baru setiap harinya. Selain itu mereka mampu surviveddalam situasi pandemi seperti ini.

UMKM Ramah Digital

Tak jelas kapan pandemi ini berakhir, UMKM harus berpikir dan menyesuaikan diri dengan teknologi. Menyesuaikan dengan teknologi tentu bukan hal yang berbanding terbalik dengan semangat hand-crafted, ciri khas dari kebanyakan UMKM di Indonesia. Ada sisi-sisi teknologi yang mampu menunjang pertumbuhan usaha dan menjangkau lebih banyak pasar. Sehingga mampu membantu meningkatkan penjualan dan tentunya lebih dari sekedar survived di masa pandemi ini.

Lalu bagaimana cara membuat usaha menjadi ramah teknologi alias mudah beradaptasi di era digital ini? Berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan oleh pelaku UMKM untuk bisa mengintegrasikan teknologi dengan segera pada lini usaha mereka. Simak beberapa tips UMKM Digital di bawah ini yang dirangkum dari beberapa sumber.

“Membuka diri” pada Media Sosial & Website

Memanfaatkn kemajuan teknologi dengan menggunakan digital marketing berupa “display” produk yang menarik secara online baik di Instagram, Tiktok, serta Website akan memudahkan calon pelanggan menemukan produk . Menampilkan gambar produk dengan menarik, membuat captiondan tagline yang “catchy” serta mengunakan copywriting sederhana. Ini akan mampu meningkatkan minat pelanggan dan memperbesar peluang terjadinya transaksi jual beli. Saat ini media sosial masih dapat digunakan secara gratis dan sudah banyak orang memanfaatkannya untuk meraup banyak keuntungan. Sementara, membuat website tentu memerlukan biaya lebih, tapi ini akan memberi nilai tambah dan kredibilitas pada usaha atau brand tersebut.

Membangun jaringan untuk menjangkau pasar

Melalui display produk yang bagus dan benar, media sosial akan membantu mengembangkan jaringan dengan sendirinya. Konten-konten freshperlu dan terus diperbarui sehingga brandkita tidak tenggelam oleh brandpesaing. Sehingga brand kita tetap muncul di halaman teratas beranda media sosial serta peringkat website di mesin pencari. Dengan semakin banyaknya reach account ke audiens tentu akan memperbesar peluang transaksi jual beli dan menghasilkan banyak keuntungan.

Strategi Affiliate Marketing

Membangun bisnis kemitraan dengan influencer, blogger, dan lain sebagainya membuat kita memiliki affiliate marketer. Mereka yang akan membantu menjual produk kita tanpa repot mesti titip barang atau menjadi reseller.

Strategi Digital Marketing

Terakhir, konsisten dengan membuat konten rutin di media sosial. Menerapkan Seach Engine Optimization (SEO) pada website. Membangun jaringan melalui affiliate marketer akan mampu menambah jangkauan pelanggan. Sehingga mampu meningkatkan jumlah transaksi yang pada akhinya mampu menghasilkan penjualan dan keuntungan yang besar. Pastinya dengan produk UMKM yang unggul dan selalu menjaga kualitas produk.

Kedepan tantangan UMKM digital Indonesia akan sangat besar. Pelaku usaha luar negeri juga sangat tertarik untuk berjualan di Indonesia melihat besarnya potensi pasar Indonesia. Maka dari itu UMKM Indonesia tak boleh kalah cepat. Momentum pandemi bisa dijadikan kick-start demi mewujudkan ekonomi Indonesia yang makmur dan berjaya di tanah sendiri.

3 thoughts on “UMKM Go Digital: Adaptasi Karena Dipaksa Pandemi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *