China, atau yang dikenal dengan Tiongkok merupakan Negara dengan jumlah penduduk terbesar dengan luas negara berada di urutan ketiga di dunia. Privilege tersebut membuat China memiliki pasar tenaga kerja dan pasar konsumen yang besar oleh produsen mancanegara. Lokasi yang luas menjadikan China memiliki banyak lahan untuk mendirikan pabrik. Dengan demikian, banyak investor yang tertarik untuk menanamkan modal di sana.

Namun, sejak tahun 2020 banyak perusahaan mancanegara yang telah atau berencana keluar dari China ke negara lain sehingga mengancam perekonomian China. Apa-apa saja kah yang menjadi penyebabnya?

Pandemi Covid-19

Sebagaimana yang diketahui bahwa Wuhan, Ibukota Provinsi Hubei yang terletak di China bagian tengah merupakan kota asal-usul ditemukannya virus Covid-19. Saat merambaknya virus, aktivitas produksi terhambat. Sementara, rantai pasok global selama ini berkonsentrasi di wilayah China. Lockdown yang terjadi di China mengakibatkan terjadi hambatan produksi dan pengiriman yang besar saat pandemic covid-19. Sebaran geografis diperlukan agar rantai pasok lebih terdiversifikasi dan mempunyai cadangan apabila di tempat lain sedang mengalami gangguan. Pandemi covid-19 sendiri merupakan salah satu faktor yang menekan perusahaan untuk mengambil kebijakan ini.

Pajak Bea Impor

Penerapan pajak bea impor tidak bisa dipisahkan dengan kondisi geopolitik antara China dan Amerika Serikat. Perang dagang bermunculan ketika terjadi impor dari China ke Amerika Serikat. Produsen diberatkan dengan penerapan pajak bea impor yang cukup besar. Perang tarif antara pemerintah China dan AS yang terus berlajut membuat para petinggi perusahaan mengeluh karena biaya produksi yang mereka keluarkan membengkak hingga 10% bahkan lebih.

Kebijakan Donald Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengeluarkan pernyataan bahwa akan terjadi pemisahan (decoupling) ekonomi antara China dan Amerika Serikat yang sebelumnya terjalin dengan sangat lekat. Hal ini banyak menuai kontroversi lantaran China memiliki infrastruktur serta rantai pasok yang sangat lengkap dibandingkan dengan negara-negara lain.

Penasehat Perdagangan Gedung Putih Peter Navarron mengungkapkan bahwa wabah Covid-19 menyebabkan kepercayaan pasar atara Amerika Serikat dan China menurun drastis. Di sisi lain, banyak tokoh yang menolak kebijakan Donald Trump ini karena dianggap dapat mengganggu kestabilan ekonomi global dan tidak realistis untuk dilakukan mengingat China adalah pemasok terbesar di negeri paman sam.

Upah Tenaga Kerja

Seperti yang dijelaskan di awal artikel bahwa China mempunyai jumlah penduduk terbesar di dunia, yakni mencapai 1,402 miliar di tahun 2020. Dengan demikian ketersediaan tenaga kerja di China sangatlah melimpah ruah. Di satu sisi, upah tenaga kerja China sejak sepuluh tahun lalu tergolong sangat murah. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, terjadi kenaikan pada upah kerja. Euromonitor mencatat terjadi kenaikan hingga 64% untuk upah buruh pabrik per jam. Upah kerja yang meningkat akan membuat biaya overhead atau biaya produksi ikut meningkat sehingga perlu kenaikan pada produk akhir yang dijual di pasaran.

Boikot

Berbeda dengan keempat poin di atas, poin kelima justru datang dari warga China sendiri. Contoh kasus untuk perusahaan H&M yang ramai-ramai diboikot oleh warga China karena memberitakan bahwa produksi kapas di Xinjiang dilakukan dengan mengeksploitasi para pekerjanya. Hal tersebut merupakan kasus lama yang akhirnya kembali dimunculkan setelah naiknya kasus minoritas Uyghur.

Sebelum Boikot atas H&M, beberapa merek retail barat telah diboikot terlebih dahulu, seperti Lotte. Dampak dari boikot Lotte membawa kerugian hingga 1 triliun won. Berbeda dengan H&M, kasus boikot Lotte terjadi setelah peluncuran sistem Terminal High Altitude Area Defence (Thaad) yang menimbulkan konflik antara China dan Korea.

Penulis: Firda Amalia H

Editor : Khairul Umam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *